Gaya hidup sehat kini semakin menjamur, mendorong banyak orang untuk mulai berolahraga dan bergabung dengan komunitas Voli Kalcer. Sayangnya, antusiasme ini tak jarang terbentur oleh rasa canggung. Banyak pemula merasa terintimidasi saat baru melangkahkan kaki ke lapangan, berhadapan dengan mereka yang sudah lebih dulu mahir. Namun, pemandangan berbeda akan langsung terasa saat menyambangi salah satu sesi latihan rutin Voli Kalcer Depok. Alih-alih tatapan menghakimi, para pendatang baru justru disambut dengan canda tawa dan kehangatan yang mencairkan suasana.Aktor utama di balik komunitas tersebut adalah Muhammad Adi Riyanto, atau yang di kalangan pegiat voli dan penulis akrab disapa Adi Kumis. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pekerja swasta ini sukses membangun persona unik sekaligus menjadi penggerak utama komunitas Voli Kalcer. Berdiri sejak masa Adi masih berstatus mahasiswa, komunitas ini lahir dari keresahan sekaligus antusiasme. Melihat minimnya wadah bermain voli di kawasan Depok dan Bogor kala itu, ia memutuskan untuk mengubah waktu luangnya menjadi sebuah pergerakan positif. Kini, inisiatif sederhana tersebut telah berkembang pesat menjadi rumah bagi 519 anggota, dengan sekitar 300 orang yang rutin aktif bermain dan berlatih bersama.
Bagi Adi, voli bukanlah sekadar olahraga musiman, melainkan gairah yang telah dipupuknya sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Konsistensi tersebut tercermin dari bagaimana ia merawat Voli Kalcer Depok dengan pendekatan yang sangat memanusiakan anggotanya. Ia sadar betul bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda. Ada yang sekadar mencari keringat (rekreasional), namun ada pula yang memang memiliki ambisi sebagai atlet. “Cara kita biar orang yang baru bergabung tidak merasa canggung adalah dimulai dari grup WhatsApp. Begitu ada anggota baru, sebisa mungkin kita langsung ‘welcome’. Di lapangan pun perlakuannya sama, harus se-terbuka mungkin karena kita tidak pernah tahu seberapa jauh latar belakang mereka dengan voli,”
Jauh sebelum Voli Kalcer Depok sebesar sekarang, Adi pernah mengabdikan dirinya sebagai pelatih voli di salah satu sekolah swasta di Bogor pada periode 2016 hingga 2017. Masa-masa itu menjadi titik balik di mana keterampilannya berolahraga menjadi instrumen penyambung hidup di tengah masa kuliahnya. Dari dedikasi akar rumput tersebut, lahir sebuah pencapaian yang belakangan ini ramai diperbincangkan: salah satu mantan anak didiknya, Daffa, baru saja menorehkan sejarah dengan meraih Juara 1 di kasta tertinggi liga voli nasional, Proliga 2026 “Daffa itu gila sih prestasinya. Jujur, dari dulu saya sudah melihat potensi anak ini untuk menjadi pemain profesional. Saat itu dia adalah anak paling tinggi se-Bogor dan langsung menjadi ujung tombak tim yang saya asuh,”.
Melihat rekam jejak tersebut, tak heran jika Adi memaknai olahraga ini lebih dari sekadar hobi. “Bagi gua, voli itu sudah menjadi bagian dari hidup. Dulu saat belum bekerja dan sambil kuliah, skill olahraga inilah yang buat gua bisa jadi guru olahraga dan akhirnya menghasilkan atlet seperti Daffa. Itu adalah sebuah pencapaian personal yang luar biasa,” jelasnya penuh haru. Saat ini, buah kesabarannya merawat Voli Kalcer juga mulai menarik perhatian berbagai brand yang memberikan dukungan endorsement kepada komunitasnya.
Ke depan, Adi menaruh harapan yang besar untuk ekosistem voli amatir. Ia berharap Voli Kalcer Depok tidak hanya menjadi tren sesaat, melainkan sebuah komunitas yang berumur panjang di mana tradisi saling membimbing antara anggota senior dan junior terus dilestarikan. Lebih dari itu, jauh di lubuk hatinya, ada misi yang lebih besar. “Yang paling penting, siapa tahu dari komunitas ini saya bisa menemukan bibit-bibit baru lagi seperti Daffa dari bawah. Jadi, kita tidak hanya sehat bersama, tapi juga bisa memberikan kontribusi nyata untuk kemajuan bola voli nasional,”.