Rumah Makin Tak Terjangkau: Haruskah Kita Tetap Memaksakan Diri Membeli Rumah?

Dulu, membeli rumah terasa seperti sebuah pencapaian yang hampir pasti bisa diraih setelah seseorang bekerja dan menabung beberapa tahun.

Kini ceritanya berbeda.

Harga rumah terus meningkat, sementara kenaikan pendapatan tidak selalu mampu mengejarnya. Bayangin rumah bersubisidi di pinggiran Jakarta dengan ukuran Tipe 21/60 atau 30’/60 sudah dibanderol Rp.200 juta , sementara komersial , tergantung kotanya misalnya Bekasi sekitar Rp.450 juta, Bogor Rp.350 juta, Tanggerang Rp.700 juta hingga 1 milyar.

Rumah yang masih terjangkau sering kali berada semakin jauh dari pusat kegiatan kerja. Akibatnya, bukan hanya cicilan yang harus dihitung, tetapi juga ongkos transportasi, waktu perjalanan, dan energi yang hilang setiap hari.

Lalu muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah memiliki rumah selalu lebih menguntungkan daripada menyewa?

Bagi sebagian orang, jawabannya mungkin tidak sesederhana “rumah adalah aset”. Ada DP besar yang harus disiapkan, cicilan panjang yang bisa mencapai puluhan tahun, biaya pemeliharaan, pajak, hingga opportunity cost—uang yang seandainya tidak digunakan untuk DP rumah dapat ditempatkan pada investasi lain.

Jadi, ketika rumah semakin sulit dijangkau, mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya cara mencari rumah, tetapi juga cara kita memandang kepemilikan rumah.

Perencanaan beli atau sewa rumah
Bayangkan seorang pekerja muda yang baru menikah. Ia mulai mencari rumah pertama untuk keluarganya.

Rumah yang sesuai kemampuan ternyata berada cukup jauh dari tempat kerja. Kalau memilih rumah yang lebih dekat, harganya melonjak jauh di atas kemampuan. Akhirnya ia memilih rumah yang lebih murah, tetapi harus menempuh perjalanan panjang setiap hari.

Setelah membayar DP, ia mulai mencicil. Cicilan berjalan bertahun-tahun—bahkan dalam berbagai simulasi, masa pelunasan rumah dapat mendekati tiga dekade. Menurut sumber Jakarta (analisis data Lokapasar property daring), imbal hasil sewa rumah diperkiran 4,2 % atau harga rumah setara sekitar 24 tahun pendapatan. Di sisi lain, ada pilihan yang sering dianggap kurang ideal: menyewa rumah.

Uang yang seharusnya digunakan untuk DP dapat tetap disimpan atau diinvestasikan. Sewa memang tidak membuat seseorang memiliki rumah, tetapi memberikan fleksibilitas lokasi dan tidak mengikat pada cicilan jangka panjang.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik
Mana yang sebenarnya lebih mahal: membayar cicilan rumah selama puluhan tahun, atau membayar sewa sambil menginvestasikan dana yang dimiliki?

Jawabannya tentu bergantung pada harga rumah, bunga kredit, kenaikan harga properti, biaya sewa, hasil investasi, lokasi, dan berapa lama seseorang akan tinggal di tempat tersebut.

Karena itu, keputusan membeli rumah sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kalimat, “Daripada membayar sewa, lebih baik mencicil rumah sendiri.”

Sebab rumah bukan sekadar bangunan.

Tinggalkan Balasan