Membaca tensi APBN lewat keseimbangan primer

Pernah menonton konferensi pers APBN KiTa? Biasanya fokus audiens tertuju pada satu kata: defisit. Padahal, ada satu angka lain yang tidak terlalu diperhatikan tetapi sangat informatif, yaitu keseimbangan primer. Kalau defisit diibaratkan sebagai berat badan, keseimbangan primer mirip tensi darah. Kelihatannya sepele, tetapi banyak bercerita tentang kondisi tubuh yang sebenarnya.

Pertanyaan yang dijawab angka ini sederhana. Seandainya cicilan bunga utang kita kesampingkan sebentar, apakah uang yang masuk ke kas negara sudah cukup untuk membiayai belanja negara? Tulisan ini akan membahasnya pelan-pelan: mulai dari perumpamaan dompet keluarga, jenis-jenisnya, angka lima tahun terakhir sampai Agustus 2026, aturan yang menjadi pagarnya, penyebab dan dampaknya ke kehidupan sehari-hari, hingga perbandingannya dengan negara lain.

  1. Apa itu keseimbangan primer? Kita mulai dari dompet keluarga

Secara resmi, keseimbangan primer adalah selisih antara seluruh pendapatan negara dengan belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Kelihatannya memang agak teknis, jadi mari kita analogikan sebagai dapur rumah tangga.

Bayangkan keluarga Pak Budi yang bergaji Rp10 juta sebulan. Untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, listrik, sekolah anak, dan ongkos transportasi, mereka mengeluarkan Rp8 juta. Selain itu ada cicilan bunga rumah sebesar Rp3 juta. Kalau semua pengeluaran dihitung, gaji Rp10 juta dikurangi Rp11 juta menyisakan selisih minus Rp1 juta. Inilah yang setara dengan defisit APBN. Tetapi kalau bunga cicilan kita keluarkan dulu dari hitungan, gaji Rp10 juta dikurangi kebutuhan Rp8 juta masih menyisakan Rp2 juta. Nilai plus inilah keseimbangan primer.

Kabar baiknya jelas: gaji keluarga ini sudah cukup untuk hidup sehari-hari, dan sebagian sisanya bisa dipakai membayar bunga. Selisih Rp1 juta itu semata-mata berasal dari bunga pinjaman yang lahir dari keputusan di masa lalu, misalnya ketika mereka memutuskan membeli rumah.

Sekarang kita ubah ceritanya. Katakanlah kebutuhan harian naik menjadi Rp11 juta karena anak masuk sekolah baru, sedangkan gaji masih Rp10 juta. Keseimbangan primer keluarga ini bergeser menjadi di bawah nol. Bersama bunga Rp3 juta, mereka perlu tambahan pinjaman Rp4 juta per bulan. Situasi ini masih wajar dan bisa dikelola, apalagi kalau penghasilan terus tumbuh dan pinjamannya dipakai untuk hal yang produktif, seperti pendidikan anak. Hanya saja, makin lama situasi itu berlangsung, makin besar bagian gaji yang harus dialokasikan untuk bunga.

Ada tiga hal yang membantu kita membaca angka ini dengan tepat. Pertama, bunga adalah warisan keputusan masa lalu, sedangkan keseimbangan primer mencerminkan pengelolaan anggaran tahun berjalan, itulah sebabnya keduanya sengaja dipisahkan. Kedua, keseimbangan primer positif tidak berarti negara bebas utang. Pada 2023, misalnya, keseimbangan primer positif Rp102,6 triliun, tetapi defisit total tetap Rp337,3 triliun karena adanya bunga. Ketiga, keseimbangan primer di bawah nol tidak otomatis menandakan masalah besar. Yang lebih penting adalah seberapa besar angkanya, seberapa lama berlangsung, dan apakah ekonomi tumbuh lebih cepat daripada bunga utangnya.

  1. Jenis-jenis keseimbangan primer

Keseimbangan primer bisa dikelompokkan dengan beberapa cara, dan tiga di antaranya paling sering kita temui.

Cara pertama adalah berdasarkan hasilnya. Disebut surplus kalau pendapatan melebihi belanja di luar bunga, sehingga masih ada sisa untuk membayar bunga. Ini terjadi pada 2023. Disebut seimbang kalau keduanya pas sama, sehingga seluruh bunga dibayar dari pinjaman baru. Kondisi ini pernah menjadi sasaran ketika APBN 2024 disusun, dengan harapan angkanya mendekati nol. Disebut defisit kalau belanja di luar bunga sedikit lebih besar daripada pendapatan, seperti pada 2021, 2022, 2024, dan 2025.

Cara kedua adalah berdasarkan cara menghitungnya. Angka nominal adalah angka apa adanya yang kita baca di APBN KiTa, dan ia ikut dipengaruhi naik-turunnya ekonomi serta harga komoditas. Angka struktural adalah versi yang sudah “disaring” dari pengaruh siklus ekonomi supaya kondisi dasarnya terlihat. IMF memperkirakan keseimbangan primer struktural Indonesia pada 2025 sekitar minus 0,7 persen PDB, hampir sama dengan angka nominalnya yang minus 0,8 persen. Ada pula keseimbangan primer penstabil utang, yaitu angka minimal yang dibutuhkan supaya rasio utang terhadap PDB tidak naik. Analoginya begini: kalau gaji kita naik 8 persen per tahun sementara bunga pinjaman 5 persen, cicilan terasa makin ringan sehingga defisit primer yang kecil pun masih bisa diterima. Sebaliknya, kalau penghasilan tumbuh lambat dan bunga naik, kita perlu keseimbangan primer yang lebih kuat.

Cara ketiga adalah berdasarkan waktu pengukurannya, dan ini berguna sekali supaya kita tidak bingung membaca berita. Target adalah rencana setahun dalam UU APBN. Outlook adalah prakiraan setahun dalam laporan semester. Realisasi kumulatif adalah potret di tengah jalan, misalnya Januari sampai Agustus. Realisasi tahunan sementara diumumkan Menteri Keuangan di awal tahun berikutnya. Terakhir, realisasi audit adalah angka dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang sudah diperiksa BPK. Angka audit inilah yang kita pakai untuk 2021 sampai 2025 dalam tulisan ini.

  1. Lima tahun terakhir: naik-turun yang punya cerita

Grafik 1 menampilkan keseimbangan primer hasil audit BPK untuk 2021 sampai 2025, ditambah angka sementara Januari–Agustus 2026 dan outlook setahun penuh, berdampingan dengan target awal dalam UU APBN. Batang biru berarti di atas nol (surplus), batang oranye berarti di bawah nol.

Tinggalkan Balasan